
Sejarah Awal Berdirinya Pesantren Babakan Ciwaringin
Sejarah Awal Berdirinya Pesantren Babakan Ciwaringin
Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin terletak di Kabupaten Cirebon dan didirikan pada tahun 1705 M. Babakan merupakan pedukuhan kecil di bagian barat daya Kabupaten Cirebon. Pesantren ini didirikan oleh Ki Jatira, seorang kiai berdarah Mataram yang bernama asli Syekh Hasanuddin bin Abdul Latif dari Kajen, Kecamatan Plumbon.
Ki Jatira dikenal sebagai pengembara yang selalu menyebarkan ajaran Islam di wilayah yang disinggahinya. Di Babakan, beliau membangun mushola kecil yang digunakan untuk mengajar agama. Julukan "Jatira" diberikan oleh murid-muridnya karena kebiasaan beliau beristirahat di bawah dua pohon jati saat membangun mushola. "Jati" berarti pohon jati dan "ra" (loro) berarti dua.
Mondok di Pondok Pesantren Al-Washilah Jakarta
Rasakan suasana pendidikan pesantren yang religius, disiplin, dan penuh nilai keislaman. Pondok Pesantren Al-Washilah hadir sebagai lembaga pendidikan Islam yang memadukan tradisi pesantren dengan pendidikan modern untuk membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan.
📍 Alamat
Jl. Kp. Baru No.20, RT.04/RW.10, Kembangan Utara,
Kec. Kembangan, Jakarta Barat, 11610
📞 Telepon / WhatsApp
0898-9156-443
🌐 Website
www.alwashilah.id
📧 Email
ponpesalwashilah@gmail.com
Setelah membangun mushola, Ki Jatira fokus mengembangkan pendidikan Islam di Babakan, khususnya untuk masyarakat miskin. Kondisi lahan yang kering dan sulit bertani membuat beliau tertantang menjadikan Babakan pusat pendidikan Islam sekaligus menjaga masyarakat dari pengaruh Belanda.
Pada tahun 1718, Belanda menyerang padepokan Ki Jatira. Meskipun mendapat perlawanan sengit dari santri dan warga, Belanda berhasil menghancurkan pesantren. Ki Jatira kembali ke Babakan pada 1721 dan membangun kembali pesantren yang selesai pada 1722, sekitar 400 meter dari lokasi awal.
Belanda kembali menyerang pada 1751, namun Ki Jatira dan santrinya telah mengungsi ke Desa Kajen. Pesantren yang kosong kemudian dibakar. Ki Jatira wafat pada tahun 1753 di Kajen, meninggalkan wasiat agar menantunya, Kiai Nawawi, melanjutkan perjuangan beliau.
Penerus Pesantren Babakan Ciwaringin dilanjutkan secara estafet oleh menantu dan cucu Ki Jatira, hingga pada tahun 1916 dipimpin oleh KH. Ismail dan pada tahun 1922 oleh KH. Amin Sepuh bin KH. Irsyad, dibantu KH. Sanusi.