Buyut Bayalangu

Buyut Bayalangu

Buyut Bayalangu: Kisah Penuh Keajaiban Sultan Datul Shaleh dan Padelikan

Awal Perjalanan Sultan Datul Shaleh

Sejak masa lalu, Sultan Datul Shaleh dari Samudra Pasai memutuskan meninggalkan negerinya untuk mencari ketenangan hidup. Beliau memilih lokasi baru untuk menetap, dan sepanjang perjalanan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui sholat dan dzikir, memohon petunjuk dari Yang Maha Esa.

Petunjuk itu datang: daerah yang beliau tempati adalah Pulau Majeti, dan Sultan Datul Shaleh diperintahkan membuka wilayah tersebut menjadi pemukiman.

Padelikan Mencari Ayahanda

Sementara itu, Padelikan, putra Sultan Datul Shaleh, merasakan kerinduan yang mendalam setelah lama ditinggal ayahnya. Ia berkeliling mencari di setiap pelosok hingga tiba di sebuah tegalan dengan gubuk di tengah hutan. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Tegal Gubug.

Mondok di Pondok Pesantren Al-Washilah Jakarta

Rasakan suasana pendidikan pesantren yang religius, disiplin, dan penuh nilai keislaman. Pondok Pesantren Al-Washilah hadir sebagai lembaga pendidikan Islam yang memadukan tradisi pesantren dengan pendidikan modern untuk membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan.


📍 Alamat
Jl. Kp. Baru No.20, RT.04/RW.10, Kembangan Utara,
Kec. Kembangan, Jakarta Barat, 11610

📞 Telepon / WhatsApp
0898-9156-443

🌐 Website
www.alwashilah.id

📧 Email
ponpesalwashilah@gmail.com

Ayo bergabung bersama Pondok Pesantren Al-Washilah dan jadilah bagian dari generasi santri yang berilmu dan berakhlakul karimah.

Tapa dan Rahasia Pohon Asem Cilik

Setelah bertemu, Sultan Datul Shaleh memerintahkan Padelikan menghadap Mbah Kuwu Cirebon. Sebelum itu, Padelikan harus bertapa di bawah pohon asem Cilik.

Saat bertapa, seekor pasangan burung bangau datang dan membocorkan rahasia pohon tersebut:

  • Sebelah selatan menjadi kuda sembrani
  • Sebelah timur menjadi pakaian kuda
  • Sebelah utara menjadi cemeti
Setelah bertapa, semua yang dikatakan burung bangau menjadi nyata. Padelikan menunggang kuda sembrani dengan pakaian lengkap dan memegang cemeti untuk menemui Mbah Kuwu Cirebon, memohon menjadi muridnya.

Pertempuran Sengit Menegakkan Ajaran Islam

Di kemudian hari, Syek Majrail dari Alas Tiri Dermayu menyerang Cirebon untuk menghancurkan ajaran Islam yang sedang berkembang. Padelikan diutus oleh Mbah Kuwu Cirebon untuk menghadapi Syek Majrail.

Pertempuran berlangsung sengit. Dengan keberanian dan strategi, Padelikan berhasil mengalahkan Syek Majrail, mempertahankan ajaran Islam serta keutuhan wilayah Cirebon.

Penghargaan dan Penetapan Pulau Majeti

Sebagai penghargaan atas jasa mereka, Sultan Datul Shaleh dan Padelikan diizinkan menetap di Pulau Majeti oleh Mbah Kuwu Cirebon.

  • Sultan Datul Shaleh dianugerahi nama Iman Dalikan
  • Padelikan mendapatkan gelar Pangeran Alas
  • Pulau Majeti diberi julukan Bayalangu, yang berarti Bahaya Terlewatkan, dan juga dikenal sebagai Bumi Segandu Cirebon Ilir atau Bumi Caruban
Share
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

Belum ada Komentar untuk "Buyut Bayalangu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel