
Panembahan Ratu I
Panembahan Ratu I: Sultan Cirebon yang Menguasai Jalur Perdagangan dan Mempengaruhi Mataram!
Panembahan Ratu I (1547-1649) adalah Sultan Cirebon ketiga yang memerintah dari tahun 1570 hingga 1649. Lahir dengan nama Zainul Arifin, ia mewarisi takhta pada usia 23 tahun setelah wafatnya Fatahillah, penguasa sementara Cirebon. Masa pemerintahannya ditandai oleh kemajuan ekonomi, keamanan pelabuhan, dan hubungan diplomatik yang kuat dengan kerajaan tetangga.
Hubungan Luar Negeri
Pada masa pemerintahannya, Panembahan Ratu I menjalin hubungan baik dengan Kesultanan Banten dan Mataram. Ia membantu membangun benteng Kuta Cirebon (Benteng Seroja) dengan dukungan Sultan Mataram. Kedekatan ini memungkinkan Cirebon tetap netral di tengah konflik regional, termasuk peristiwa Harisbaya dan konflik dengan Sumedang Larang.
Mondok di Pondok Pesantren Al-Washilah Jakarta
Rasakan suasana pendidikan pesantren yang religius, disiplin, dan penuh nilai keislaman. Pondok Pesantren Al-Washilah hadir sebagai lembaga pendidikan Islam yang memadukan tradisi pesantren dengan pendidikan modern untuk membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan.
📍 Alamat
Jl. Kp. Baru No.20, RT.04/RW.10, Kembangan Utara,
Kec. Kembangan, Jakarta Barat, 11610
📞 Telepon / WhatsApp
0898-9156-443
🌐 Website
www.alwashilah.id
📧 Email
ponpesalwashilah@gmail.com
Ekonomi dan Perdagangan
Panembahan Ratu I memperkenalkan kepeng sebagai uang logam pecahan kecil dan mengatur perdagangan Picis Tiongkok di Cirebon. Ia menjaga jalur perdagangan laut dan menjalin kerja sama dengan Batavia dan wilayah lain.
Kesenian
Kereta Singa Barong dibuat atas perintah Panembahan Ratu I pada 1649 M. Kereta ini ditarik sapi, bukan kuda, sebagai simbol kemegahan kesultanan.
Kematian
Panembahan Ratu I wafat pada tahun 1649 setelah terjangkit wabah penyakit. Ia dimakamkan di Astana Gunung Sembung, dan takhta diwariskan kepada cucunya, Panembahan Ratu II.